INFO & NEWS Humaniora

Jum'at, 20 Juni 2014 - 16:05 WIB
EDITORIAL


Bahasa adalah bagian dari hidup keseharian kita. Hampir setiap saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain. Justru karena itu, keberadaan bahasa dianggap tidak lagi perlu dipersoalkan, taken for granted. Seakan, bahasa sudah ada dengan sendirinya. Padahal, sesungguhnya bahasa dapat menjadi sarana penting untuk menentukan kedudukan kita di dunia ini. Harus diingat, bahasa adalah kemampuan khas manusia yang tidak dimiliki oleh mahluk lain. Melalui bahasa, manusia dapat mengalihkan pengetahuan dan keterampilan kepada sesamanya atau generasi berikutnya. Manusia tidak perlu setiap kali belajar mulai dari awal dan mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, manusia mampu menghimpun pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki manusia lain. Keunggulan itulah yang menempatkan manusia di atas mahluk-mahluk lain.

Bahasa adalah juga cermin yang dapat merefleksikan jati diri, harkat, dan martabat seseorang, suatu komunitas, atau suatu bangsa. Bahasa adalah identitas yang melekat pada diri pribadi dan menjadi “kartu keanggotaan”-nya dalam suatu komunitas. Apabila kita ingin masuk dan diterima dengan baik dalam suatu komunitas, menguasai bahasa mereka adalah bekal utama yang diperlukan. Kesadaran ini sudah lama ada di antara masyarakat tradisional sederhana. Di antara suku-suku bangsa di Papua Nugini, Indian Amazon, dan aborijin Australia di Cape York, seseorang umumnya dapat berbicara dalam beberapa bahasa (multilingualism). Tidak jarang, anggota suku dapat bertutur lima sampai dua belas bahasa yang berbeda, seperti yang dikisahkan oleh Jared Diamond dalam bukunya The World Until Yesterday (Viking Press, 2012). Bagi mereka, semakin banyak bahasa yang dikuasai semakin tinggi pula kemampuan bertahan hidup (survival) karena akan lebih diterima dalam komunitas penutur bahasa itu. Jadi, bahasa menjadi alat ampuh untuk beradaptasi. Dengan alasan yang sama, bahasa Inggris kini dianggap sebagai perangkat untuk lebih sukses beradaptasi di era global ini. Bahkan, untuk dapat diterima di perguruan tinggi pun harus sudah bisa berbahasa Inggris.

Namun, di sisi yang lain bahasa bisa juga menjadi alat kekuasaan. Bahasa pergaulan antarbangsa yang kini digunakan secara luas adalah warisan kolonialisme dan diaspora bangsa-bangsa yang pernah menancapkan hegemoninya di dunia. Bahasa-bahasa itu telah menghapuskan ribuan bahasa dunia sejak berabad lalu. Menurut Ethnologue, lembaga pemantau perkembangan bahasa di dunia sejak tahun 1950 (www. ethnologue.com, 2013), setiap tahun paling sedikit ada enam bahasa yang punah. Penyebabnya bisa beragam. Punah akibat genosida para penuturnya, baik seketika maupun perlahan-lahan, seperti yang dialami Indian Amerika, aborijin Tasmania, atau sejumlah suku di Afrika. Kolonialisme yang melarang penggunaan bahasa pribumi. Sementara itu, berdwibahasa (bilingualism) untuk meningkatkan status, hidup lebih baik, pekerjaan, dan pendidikan ternyata menjadi langkah awal hilangnya bahasa-bahasa minoritas. Ahli linguistik Lawrence Reid (1987) yang meneliti kepunahan bahasa orang Negrito menyatakan bahwa hanya dibutuhkan satu atau dua generasi saja untuk perubahan dari proses berdwi-bahasa hingga kepunahan bahasa. Penelitian juga menunjukkan bahwa urbanisasi dan migrasi berperan besar dalam kepunahan bahasa. Orang desa yang pindah ke kota tidak saja meninggalkan desanya, tetapi juga bahasanya agar diterima dalam komunitas kota.

Kepunahan bahasa ternyata dapat juga disebabkan oleh politik, di antaranya melalui konsep bahasa persatuan. Pengalaman sejarah telah menunjukkan upaya menetapkan bahasa persatuan sering kali menyingkirkan bahasa setempat. Proses seperti itu setidaknya sudah terbukti terjadi di Jepang, Russia, Amerika, dan Perancis (Diamond, 2012). Bahkan, menurut peneliti LIPI, Dr. Abdul Rachman Patji (Tempo, 16 Desember 2011), di Indonesia terdapat 169 bahasa etnis yang terancam punah. Karena itu, kajian strategi survival bahasa (Subiyantoro) dan hubungan bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Haerun Ana) dalam edisi ini menjadi penting. Kajian bahasa seperti itu akan memberikan sumbangan yang penting apabila kita tetap ingin mempertahankan keberagaman bahasa dan budaya Indonesia.

Di samping itu, dalam konteks Indonesia, perlu kita bersama-sama mengingatkan bahwa bunyi Sumpah Pemuda tidak boleh direduksi menjadi : Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Konsep itu memang diterapkan Jepang di Okinawa setelah pulau ini dianeksasi (Diamond). Yang benar, ikrar para pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasa Indonesia bukan satu-satunya bahasa yang harus digunakan oleh bangsa Indonesia. Sebaliknya, harus terus diupayakan agar Bahasa Indonesia tidak menyingkirkan bahasa-bahasa etnis setempat. Hanya dengan demikian, kita akan tetap mampu mempertahankan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an bangsa kita.(DAT)

Selasa, 20 Mei 2014 - 08:59 WIB
Pelatihan Akses Database ProQuest
JURNAL HUMANIORA

Mengundang Bapak, Ibu, Mas dan Mbak untuk hadir di
PELATIHAN AKSES DATABASE PROQUEST DAN TAHAPAN MENGIRIMKAN ARTIKEL KE JURNAL INTERNASIONAL
Kamis, 22 Mei 2014, 09.00-11.00
Lab. Komputer FIB UGM

Kontak pendaftaran:
Email: humaniora@ugm.ac.id
HP. 081 2277 900 20
Hlm. | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
Jl. Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Telp : 0274-513096 Fax : 0274-550451
E-mail : fib@ugm.ac.id